Pembuka wacana


download 13.83 Kb.
jenengPembuka wacana
KoleksiDokumen
s.kabeh-ngerti.com > Tengen > Dokumen
PEMBUKA WACANA
Bagi kita para warga Paguyuban Sumarah di manapun berada kata “Sesanggeman” memang bukan sesuatu yang baru, apalagi bagi yang telah sangat lama menggeluti Ilmu Sumarah. Hampir bisa dipastikan bahwa di setiap ruang tamu di kediaman para warga Sumarah akan tergantung cantik poster “Sesanggeman” menyeruak diantara hiasan-hiasan dinding yang lain.

Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa “Sesanggeman” merupakan hal yang sudah sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja kiranya apabila misalnya banyak warga Paguyuban Sumarah yang sampai hafal dari nomor 1 sampai 9, juga bukan sesuatu yang istimewa tentunya apabila banyak warga yang berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya karena hanya dengan pemahaman yang mantap serta diikuti dengan penuh keyakinan akan kebenarannya maka kewajiban untuk melaksanakannyapun akan bisa diimplementasikan secara bertanggung jawab.

Itulah sebabnya disini penulis mencoba memberanikan diri untuk mengangkat “Sesanggeman” sebagai wacana yang mungkin oleh sebagian atau banyak pihak akan diperhitungkan, atau mungkin juga hanya akan dianggap sebagai angin lalu.

Kiranya hanya sang waktulah nanti yang akan menentukan serta membuktikan untuk apa dan ada maksud apa Tuhan menjadikan dia punya getar jemari tangan yang tiada mau ditahan memaksa menari diatas keyboard.

Telah berpuluh tahun penulis mengalami dan menyaksikan kedudukan “Sesanggeman” yang begitu dihormati dan disakralkan , jangankan mengubah kata, untuk menguraikannya saja dihadapan orang lain sering dianggap tabu, mungkin dianggap takabur, sok pandai (kuminter Jw.) dsb. Tidak disadari bahwa anggapan itu sebenarnya tumbuh bertentangan dengan sebagian kalimat dalam Sesanggeman itu sendiri yaitu “….mboten nacad kawruhing liyan…”

Dalam proses kelahirannya kalimat-kalimat dalam Sesanggeman tidaklah begitu saja langsung jadi tertulis apa adanya sesuai bunyi Dhawuh/Firman yang diterima almarhum pak Kino, akan tetapi selalu berkembang sesuai kehendak para sesepuh, sesuai selera sastra saat itu, dan sesuai keadaan perkembangan jamannya.

Memang dalam hukum organisasi sekecil apapun perubahan yang ada hendaknya perlu landasan hukum yang rieel, perlu justifikasi, akan tetapi karena perkembangan Ilmu Sumarah terwadahi dalam suatu organisasi yaitu Paguyuban Sumarah, maka di dalam perkembangan itu sendiri pasti suatu saat takkan terelakkan akan terjadi perubahan-perubahan sesuai kebutuhan jamannya.

Masalah bahasa misalnya, walaupun kita kenal peribahasa : “Bahasa itu menunjukkan Bangsa”, namun kiranya untuk saat ini saja kita pasti akan ragu mengatakan bahwa anak-anak kita ( maaf, khususnya yang keturunan orang Jawa) bisa membaca dengan benar dan apalagi bisa mengerti makna kalimat-kalimat dalam “Sesanggeman”. Mungkin mereka akan lebih bisa membaca dan mengerti bila “Sesanggeman” itu tertulis dan diucapkan dalam bahasa gaul. Bagaimanakah kiranya nasib “Sesanggeman” dalam bahasa yang sekarang untuk masa 200 tahun mendatang ? Jangan-jangan nantinya malah berubah menjadi mantera atau doa untuk mengirim arwah, yang arwah-arwah itu adalah kita-kita sendiri.

Selain itu akhir-akhir ini kita juga melihat adanya fenomena-fenomena yang menggejala dikalangan para warga Paguyuban Sumarah sendiri antara lain :

  1. “Sesanggeman” seolah mau dikesampingkan begitu saja, sebagai contohnya:

  • Munculnya pendapat beberapa warga Sumarah, yang menyatakan bahwa bagi orang Sumarah itu yang penting Sujudnya , nanti kalau sujudnya sudah benar pelaksanaan Sesanggeman akan terwujud dengan sendirinya. Pendapat semacam itu sah-sah saja dan penulis tidak ingin menyalahkan, namun untuk hal ini biarkanlah penulis mengemukakan pendapatnya sendiri, bagi yang berminat silahkan dipakai bagi yang tidak silahkan lewati.

Perlu dicermati kiranya bahwa kewajiban/kesanggupan melaksanakan Sujud Sumarah itu hanya salah satu diantara kewajiban-kewajiban yang lain dalam Sesanggeman (lihat Sesanggeman No.2 : “Sanggem……dst., ….. saha sujud Sumarah ing Allah”). Bagaimana mungkin suatu kewajiban yang bukan nomor satu bisa menjadi dominan dan bahkan bisa mengalahkan kewajiban-kewajiban yang lain. Apakah kita juga ingin melakukan praktek KKN dengan Tuhan ?

  • Seringkali entah dengan alasan apa pembacaan “Sesanggeman” tidak lagi menghias acara latihan Sujud Sumarah maupun pertemuan-pertemuan warga Sumarah.

  • Munculnya sementara pendapat bahwa menghafal Sesanggeman itu tidak perlu karena yang lebih penting itu melaksanakannya. Bagaimana mungkin bisa melaksanakan sesuatu yang kita tidak tahu maksudnya dengan tepat karena tidak tahu urutan-urutan kalimatnya secara benar ? Bagaimana kita bisa tahu urutan yang benar jika kita tidak hafal ? Padahal hafal saja belum tentu tahu artinya, contohnya di Indonesia ini banyak yang hafal Al Faatihah, Al Ikhlash, An Naas dsb. bahkan Surat Yaasiin, tetapi berapa persen yang tahu maknanya dan apalagi tahu cara menggunakannya. Padahal ada sesirat peringatan Tuhan lewat Al Qur’an Surat Al Israa’ ayat 36 yang terjemahannya sbb :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Perlu pula penulis ingatkan konon menurut surat jawaban pak Kino kepada Sdr. Slamet Kantor Perhutani Bojonegoro tanggal 12 Januari 1966 diutarakan bahwa Syarat pertama untuk dapatnya dibe’at Kesepuhan adalah hafal Sesanggeman.

  • Akhir-akhir ini “Sesanggeman” seringkali tidak lagi menjadi bahan bahasan dalam acara Be’atan, (sering penulis saksikan dalam acara Be’atan Budi).

  1. Ada yang mempersoalkan perihal penandatanganan naskahnya, sehingga cenderung berusaha untuk berbuat set back yaitu menggunakan “Sesanggeman” yang dibuat tahun 1947 yang malahan masih menggunakan kata “toemoejoe dateng kamardikan….” (karena memang saat itu kita masih dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan kemerdekaan bangsa kita saat itu memang belum 100% diakui dunia Internasional, terutama oleh Belanda , baru setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949 Belanda rela mengakui Indonesia sebagai negara merdeka walaupun masih dalam bentuk negara Republik Indonesia Serikat), serta masih menggunakan ejaan Van op Huijsen (sekarang kan sudah EYD).

  2. Seringkali terbaca adanya banyak sikap, perilaku, serta tutur kata di kalangan warga Sumarah (mudah-mudahan tidak banyak) yang menurut tolok ukur “Sesanggeman” telah banyak menyimpang. Sebagai contoh misalnya :

  • Terkadang masih terjadi terlontarnya penilaian negatip antar sesama warga (jelas tidak sesuai dengan Sesanggeman No. 6 : ….. mboten nacad kawruhing liyan)

  • Kurangnya usaha perbaikan watak/sikap/perilaku/tutur kata pada masing-masing individu (ini kalau kita mengacu pada kalimat ….. ngutamekaken watakipun …dst. dalam Sesanggeman nomor 3)

  • Masih kurang berkembangnya rasa kekeluargaan diantara sesama warga (kalau ditinjau dari Sesanggeman No.4)

  • Masih sangat kurangnya aktifitas ekstra organisasi (dilihat dari Sesanggeman No.6)

  • Tumbuhnya sikap-sikap fanatisme serta pembenaran terhadap pendapatnya sendiri/kelompoknya (silahkan koreksi dengan Sesanggeman No. 9).

  • Ada yang mentabukan upaya mempelajari ajaran di luar Sumarah (silahkan koreksi dengan Sesanggeman No. 8)

  • Dsb. (mudah-mudahan semua itu hanyalah mimpi atau khayalan penulis)

Dalam istilah kekinian mungkin ditafsirkan bahwa hal-hal tersebut terjadi karena kita termasuk dalam kategori “lagi/sedang mengalami krisis”, ini mungkin karena kita sering percaya bahwa Sumarah itu selalu “nut jaman kelakone” (nut kependekan dari kata manut = mengikut, jadi Sumarah itu hanya mengikut jaman), dengan pengertian itu maka jika jaman ini jaman krisis maka kaum Sumarah ikut terkena krisis, kalau jamannya menjadi rusak orang Sumarahpun ikut rusak. Padahal yang terjadi dalam kenyataan adalah sebaliknya yaitu; kita menyebut jaman edan setelah orang-orangnya pada edan, menyebut sebagai jaman modern karena orang-orangnya telah banyak yang berpikir dan berperilaku modern. Karena itu seharusnya kita akan lebih percaya bahwa Ilmu Sumarah itu ikut menata jaman sesuai pesan Wewarah lewat pak Kino yang terbaca dalam buku Impunan Wewarah 1949 – 1950 halaman 75 : Kaum Sumarah wajib damel rahayuning bawana …..( kaum Sumarah berkewajiban membuat selamatnya dunia). Bagaimana mungkin kaum Sumarah bisa mengemban missi tersebut jika kita tetap lelap terlena arusnya jaman dan bukannya berdiri tegak meniti buih buat mencipta jejak penyelamat generasi hari nanti sesuai petunjuk Hyang Widhi???

Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan Dhawuh guna menyelamatkan jaman/dunia jika Dhawuh yang dahulu saja (Sesanggeman) belum sepenuhnya kita laksanakan, entah dengan alasan belum sempat atau memang karena belum paham dan bahkan sudah lupa???
Di jaman yang serba modern ini kita semua dituntut untuk berpikir realistis logis, demikian pula dalam mengaplikasikan Sujud Sumarah dengan sistem Paket, pada saat kita membangun kesadaran seutuhnya diartikan pula masih berfungsinya alat fikir sebagaimana mestinya sehingga seluruh proses perjalanan sujud dapat diikuti secara realistis dan logis. Hal ini tentunya amat diperlukan dalam menghadapi tuntutan jaman sekarang yang mengedepankan transparansi/kejelasan dalam segala hal tanpa harus ada yang ditutup-tutupi (sinengker Jw.)

Pemahaman akan makna Sesanggeman menjadi sangat penting manakala kita tidak ingin bahwa warga paguyuban Sumarah dimasa yang akan datang menjadi kehilangan arah , kehilangan pedoman dan kehilangan tolok ukur dalam menilai segala tutur kata dan perbuatannya sendiri termasuk menentukan atau memilih pandangan hidupnya. Pemahaman akan makna Sesanggeman menjadi sangat relevan jika kita ingin untuk seterusnya Sesanggeman tetap menjadi pedoman laku kaum Sumarah, tetap menjadi kepribadian kaum Sumarah dan tetap menjadi sumber hukum bagi organisasi paguyuban Sumarah.

Jika bangsa Indonesia ingin tetap eksis dan survive tentunya tak ingin bergeser dan apalagi meninggalkan Pancasila, maka bagi warga paguyuban Sumarah jika ingin dirinya selamat dunia akhirat tentunya tak ingin melupakan Dhawuh Tuhan yang terkandung dalam Sesanggemannya.

Untuk itulah kiranya penulis menjadi tergerak hati merangkai kata buat sekumpulan kalimat penguak makna, walaupun hanya sebatas wacana alias omong-omong belaka, namun setidaknya bisa digunakan sebagai pengisi waktu luang dikala senggang sambil meronce kenangan diri dan menambah wawasan. Bagi saudaraku yang berniat melengkapi ataupun mengkritisi, dada ini masih terbuka untuk menerimanya, toh semua getar dan gerak telah ada yang mengatur, tinggal bagaimana kita mengikuti iramanya.

Bagi kita kaum Sumarah “Sesanggeman” adalah ibarat untaian mutiara, jadi jika ada peribahasa yang menyatakan bahwa : “Mutiara itu keluar dari mulut anjing sekalipun, ia akan tetap mutiara.” Silahkan para pembaca menerka apa pula maksud penulis yang sebenarnya.

R a h a y u , r a h a y u , r a h a y u .

Share ing jaringan sosial


Similar:

Mendengarkan : Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan...

Pelajaran “Menulis Pembuka Cerita”

Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan...

1. Memahami wacana lisan berbentuk laporan

Memahami wacana lisan berbentuk laporan

Membangkitkan kembali wacana tentang televisi pendidikan1

1. Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita

Studi Analisis Wacana Kekerasan Terhadap Perempuan yang

Standar Kompetensi: Memahami wacana lisan dalam kegiatan wawancara

26. Mendengarkan : Memahami wacana pemikiran, perasaan dalam Puisi...

Sastra


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
s.kabeh-ngerti.com
.. Home