Abstrak haryaningrum,Rita.” Penggunaan Permainan Mencari Jejak Dalam Mempelajari Interkonversi Mol Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X semester 1 sman 1 Bojong Kabupaten Pekalongan Tahun 2009/2010 “


download 52.85 Kb.
jenengAbstrak haryaningrum,Rita.” Penggunaan Permainan Mencari Jejak Dalam Mempelajari Interkonversi Mol Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X semester 1 sman 1 Bojong Kabupaten Pekalongan Tahun 2009/2010 “
KoleksiAbstrak
s.kabeh-ngerti.com > Kimia > Abstrak


ARTIKEL

PENGGUNAAN PERMAINAN MENCARI JEJAK

DALAM MEMPELAJARI INTERKONVERSI MOL

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

KELAS X SEMESTER 1 SMAN 1 BOJONG

KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2009/2010

Disusun Oleh :

Nama : Rita Haryaningrum, S.Pd

NIP : 197012181997022002 Jabatan : Guru Mapel Kimia

Unit Kerja : SMAN 1 Bojong Kab. Pekalongan

SMA NEGERI 1 BOJONG KABUPATEN PEKALONGAN

2010

ABSTRAK

Haryaningrum,Rita.” Penggunaan Permainan Mencari Jejak Dalam Mempelajari Interkonversi Mol Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Semester 1 SMAN 1 Bojong Kabupaten Pekalongan Tahun 2009/2010 “.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas X.2 SMA Negeri 1 Bojong Kabupaten Pekalongan tahun pelajaran 2009/2010. Karena hasil belajar kimia pada bab konsep mol masih rendah yaitu 62,05 di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 70 dan ketuntasan klasikal hanya 56,82 % di bawah 75 % yang ditetapkan.

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa khususnya pada materi Interkonversi Mol. Tindakan yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran inovatif yaitu permainan mencari jejak. Tindakan dilakukan dalam 2 siklus. Pada siklus 1 guru merencanakan untuk mengajar materi Interkonversi Mol satu langkah dengan variasi permainan mencari jejak.Selama pelaksanaan guru kolaborator melakukan observasi keaktifan siswa. Kemudian dilakukan refleksi untuk mengadakan perbaikan tindakan di siklus 2. Pada siklus 2 tindakan disempurnakan dengan perencanaan pengajaran dengan permainan mencari jejak pada materi Interkonversi Mol dua langkah.Kemudian pelaksanaan tindakan dilanjutkan observasi dan refleksi.Pada masing-masing siklus diamati peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif komparatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dari kondisi awal/pra siklus, siklus 1, sampai siklus 2 sebesar 16,12 % dan peningkatan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 40 %. Keaktifan siswa juga mengalami peningkatan sebesar 25 % dari siklus 1 ke siklus 2.Dari hasil tersebut hipotesis terbukti bahwa permainan mencari jejak dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mempelajari materi Interkonversi Mol di kelas X semester 1 SMAN 1 Bojong Kabupaten Pekalongan.

I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Mengajar Kimia di kelas X haruslah menarik bagi siswa karena turut mempengaruhi minat siswa memilih jurusan IPA atau IPS di kelas XI.. Salah satu materi kimia yang wajib dikuasai di kelas X adalah konsep mol. Bagi sebagian besar siswa materi ini dianggap sebagai materi yang sulit. Pada ulangan harian di kelas X.2 tahun 2009/2010 diperoleh nilai rata-rata kelas 62,05 di bawah KKM 70 dan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 56,82 % di bawah standar 75 %. Padahal materi konsep mol digunakan sebagai dasar bagi siswa selanjutnya untuk mempelajari stoikiometri atau hitungan kimia dalam zat maupun larutan. Sehingga penguasaan siswa tentang konsep mol menjadi prasyarat keberhasilan siswa tersebut mempelajari materi selanjutnya.

Konsep mol termasuk materi hitungan. Strategi pengajaran yang sering digunakan guru adalah dengan ceramah untuk pemahaman konsep dilanjutkan dengan latihan soal sebagai prinsip pengulangan. Namun dalam pelaksanaan belajar mengajar di kelas diperlukan ketrampilan guru untuk memberikan variasi pengajaran agar kelas menjadi tidak monoton dan membosankan. Kelas pengajaran yang diliputi oleh suasana hening, sepi, serius dan penuh konsentrasi terhadap pelajaran menimbulkan akibat individu yang belajar merasa kelelahan, bosan, capek dan semacamnya (Rohani, 2004 ).

Untuk meningkatkan keaktifan siswa dan mengubah suasana belajar menjadi menyenangkan, guru harus memperbaiki proses pengajarannya dengan memilih metode pengajaran yang sesuai.Variasi kegiatan belajar mengajar yang dapat digunakan adalah dengan permainan. Para sarjana pendidikan berpandangan bahwa pada dasarnya setiap peserta didik sangat membutuhkan permainan asal permainan itu memiliki nilai manfaat bagi peserta didik dan bagi kelancaran aktivitas pengajaran dan sebatas kewajaran ( Rohani, 2004 : 30 ). Dalam permainan peserta didik dapat menghibur diri, bersuka ria, berbicara bebas ataupun bergerak-gerak bahkan berlari-lari. Permainan juga disarankan oleh Paul B. Diedrich sebagai kegiatan kegiatan yang meliputi aktivitas jasmani dan jiwa ( Rohani, 2004:8 ).

Permainan mencari jejak yang diusulkan untuk mempelajari interkonversi mol melibatkan kegiatan fisik berupa berlari, berbicara dengan bebas, keras dan aktif bergerak dengan anggota badan. Sedangkan soal latihan menuntut aktivitas psikis karena daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya berfungsi mengamati dengan teliti, mengingat rumus dan menguraikan.

Jika strategi pengajaran yang digunakan tepat, ditambah pemberian variasi pengajaran yang sesuai maka dapat diharapkan hasil belajar yang diperoleh dapat maksimal. Hasil pengajaran ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang berlangsung dan hasil belajar berupa kemampuan siswa memahami dan menguasai konsep.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang sudah disampaikan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

Apakah penggunaan permainan mencari jejak dalam mempelajari interkonversi mol dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan permainan mencari jejak sebagai variasi pengajaran dalam mempelajari interkonversi mol dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan untuk mengetahui apakah penggunaan permainan mencari jejak dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat bagi sekolah, mampu memberikan tambahan informasi dan wawasan tentang variasi pengajaran sehingga dapat diterapkan untuk mata pelajaran lain.Bagi guru,hasil penelitian ini memberikan alternatif bahwa untuk mengajarkan materi interkonversi mol dapat menggunakan variasi pengajaran dengan menggunakan permainan mencari jejak.Bagi siswa, dapat membantu meningkatkan pemahaman dalam mempelajari interkonversi mol.

II. KERANGKA TEORITIS

2.1.Pembelajaran Kimia

Pembelajaran kimia adalah proses pembelajaran untuk menyampaikan materi kimia. Mata pelajaran Kimia di SMA mempelajari segala sesuatu tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika dan energitika zat yang melibatkan ketrampilan dan penalaran. Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia dan tidak terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta,konsep,prinsip,hukum dan teori) temuan ilmuwan dan kimia sebagai proses ( kerja ilmiah ).Oleh sebab itu pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk.

Usaha meningkatkan proses kegiatan belajar ini dikembangkan melalui berbagai variasi metode pengajaran dan model pengajaran. Sehingga berkembanglah model-model inovatif dalam pembelajaran salah satunya adalah dalam bentuk permainan.

2.2.Permainan dalam Pembelajaran

Menurut Arif S.Sadiman (1988:77), permainan dalam pembelajaran mempunyai kelebihan-kelebihan antara lain :

a.Permainan adalah sesuatu yang menyenangkan dan menghibur, sehingga dapat menarik perhatian peserta didik.

b.Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari peserta didik.

c.Peranan guru berkurang, interaksi antar peserta didik lebih menonjol.

d.Permainan dapat memberikan umpan balik secara langsung.

e.Peserta didik dapat belajar dari pengalaman peserta didik yang lain.

f.Ketrampilan yang dipelajari melalui permainan jauh lebih mudah untuk diterapkan dalam kehidupan nyata daripada yang diperoleh melalui penyajian biasa.

g. Permainan bersifat luwes, dapat dipakai untuk berbagai tujuan, dapat dibuat dengan mudah dan dapat diperbanyak.

2.3. Konsep Mol dan Interkonversi Mol

Materi konsep mol diberikan untuk siswa SMA kelas X di semester 1.Termasuk di dalamnya adalah Interkonversi Mol. Apabila dibuat bagan hubungan satuan-satuan yang digunakan dalam perhitungan kimia maka kita akan mendapatkan peta hubungan pengubahan satuan dari jumlah partikel, gram, volume dan sebaliknya dengan satuan mol. Pengubahan satuan-satuan ini disebut dengan Interkonversi Mol. Bagan Interkonversi Mol digambarkan berikut :

: :

GRAM Ar/Mr MOL 6,02 x 1023 JML PARTIKEL

x x

: x 22,4 L

VOLUME (STP)

2.4. Permainan Mencari Jejak untuk Mempelajari Interkonversi Mol

Permainan mencari jejak diadaptasi dari permainan dalam kegiatan Pramuka. Dalam permainan ini peserta harus berjalan mengikuti jejak atau arah yang sudah ditentukan hingga mencapai suatu tujuan. Sesuai dengan materi interkonversi mol yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mengubah suatu satuan dalam mol menjadi satuan lain ke segala arah maka permainan mencari jejak dapat diterapkan untuk mempelajari materi ini. Dengan melihat peta Interkonversi mol siswa dapat mengikuti arah untuk menuju satuan yang diinginkan dari satuan semula. Dalam menuju satuan yang dituju siswa harus menyelesaikan hitungan dulu seperti yang disyaratkan dalam Interkonversi Mol.

2.5. Kerangka Berpikir.

Kondisi Awal Belum menggunakan Hasil Belajar

Variasi permainan Siswa Rendah



Tindakan Pengajaran menggunakan Siklus 1

Permainan Mencari Jejak Siklus 2



Kondisi Akhir Hasil Belajar Siswa Meningkat

2.6. Hipotesis

Dalam mempelajari Interkonversi mol diperlukan pemahaman konsep dari siswa. Untuk itulah diperlukan variasi pengajaran berupa permainan mencari jejak yang melibatkan keaktifan siswa untuk bergerak dan berfikir. Belajar dengan bermain akan membuat siswa menjadi aktif belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan suasana yang menyenangkan.Sehingga dapat dihipotesakan bahwa:

Penggunaan permainan mencari jejak dalam mempelajari Interkonversi Mol dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

III.PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1.Deskripsi Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar siswa pada materi Interkonversi Mol yang diberikan pada siswa kelas X semester 1. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan permainan mencari jejak sebagai variasi untuk mengajarkan materi interkonversi mol.

Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Bojong Kabupaten Pekalongan. Subyek penelitian adalah siswa kelas X.2 yang berjumlah 44 siswa terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 28 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan pada akhir semester 1 tahun Pelajaran 2009/2010 yaitu pada bulan November – Desember 2009.

Data dari penelitian ada 2, yaitu data hasil belajar siswa pada materi Interonversi Mol dan data keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pengumpulan data hasil belajar siswa dilakukan dengan teknik tes. Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan teknik non tes yaitu melalui observasi.

3.2.Deskripsi Pelaksanaan

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus,masing-masing siklus dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan 2 x 45 menit.Materi pelajaran untuk siklus 1 adalah Interkonversi Mol satu langkah dan siklus 2 adalah Interkonversi Mol dua langkah.Urutan kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :

3.2.1.Perencanaan

-Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)

-Menyiapkan peralatan yang digunakan untuk permainan mencari jejak.

-Menyiapkan kartu-kartu soal latihan bagi siswa.

-Menyiapkan alat evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa

-Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati keaktifan siswa. 3.2.2.Pelaksanaan

-Guru menyampaikan informasi materi interkonversi mol.

-Guru menjelaskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.

-Siswa melakukan latihan soal dengan bermain mencari jejak.

-Guru mengkoreksi jawaban siswa dan mendiskusikannya dengan siswa.

-Melaksanakan tes.

3.2.3.Observasi

Pengamatan/observasi dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Catatan lapangan diperlukan untuk mencatat hal-hal yang belum masuk dalam lembar observasi untuk menambah data pelaksanaan kegiatan.

3.2.4. Refleksi.

Pada tahap ini dilakukan kegiatan analisis data yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan . Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif komparatif.Hasil analisis data ini selanjutnya digunakan untuk melakukan refleksi guna mengadakan perbaikan di siklus selanjutnya atau untuk menyimpulkan hasil penellitian dengan melihat peningkatan hasil yang diperoleh.

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Kondisi Awal / Pra Siklus

Kondisi awal / Pra Siklus adalah keadaan kelas sebelum penggunaan permainan dalam proses pembelajaran. Di akhir kegiatan belajar mengajar guru mengadakan tes , dan diperoleh hasil nilai rata-rata kelas adalah 62,05 di bawak KKM yaitu 70,prosentase ketuntasan klasikal 56,82% di bawah standar yaitu 75 %,nilai tertinggi adalah 80 dan nilai terendah adalah 30.

4.1.2. Siklus 1

Di siklus 1 guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar materi Interkonversi Mol satu langkah menggunakan permainan mencari jejak. Di akhir pembelajaran guru mengadakan tes dan diperoleh data nilai rata-rata kelas 68,41,prosentase ketuntasan klasikal 68,18 %,nilai tertinggi yang diperoleh adalah 80 dan nilai terendah adalah 50.

Hasil observasi keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar menunjukkan hasil kategori Baik yaitu menunjukkan angka 68 %.

Temuan yang diperoleh di siklus 1 adalah siswa belum terbiasa untuk bermain sambil belajar sehingga siswa terlihat kurang bebas dan masih malu-malu.Permainan mencari jejak dilakukan di luar ruang kelas sehingga konsentrasi siswa kadang terganggu lingkungan luar.Pengelolaan waktu dalam proses pembelajaran belum efisien sehingga latihan soal masih terasa kurang.

4.1.3. Siklus 2

Pada siklus 2 guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar materi Interkonversi Mol dua langkah dengan permainan mencari jejak setelah diadakan perbaikan berdasarkan hasil refleksi di siklus 1.

Di akhir kegiatan belajar mengajar guru mengadakan tes hasil belajar pada siswa secara individual dan diperoleh data nilai rata-rata kelas adalah 72,05,prosentase ketuntasan klasikal sebesar 79,55%,nilai tertinggi yang diperoleh adalah 90 dan terendah adalah 50.

Sedangkan hasil pengamatan keaktifan siswa di kelas selama berlangsung kegiatan belajar mengajar menunjukkan keaktifan siswa dengan prosentase 85 %, termasuk dalam kategori Sangat Baik. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah berlangsung kondusif dan menimbulkan suasana yang menyenangkan.

4.2. Pembahasan

Hasil penelitian yang dilakukan mulai dari kondisi pra siklus, siklus 1 sampai akhir siklus 2 dibandingkan untuk melihat kenaikan hasil tes seperti dalam tabel berikut.

Tabel 1. Tingkat Pencapaian Hasil Belajar Siswa.

No

Aspek

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

1.

Nilai rata-rata kelas

62,05

68,41

72,05

2.

Prosentase ketuntasan klasikal

56,82 %

68,18 %

79,55 %

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat hasil-hasil berikut :

a.Terjadi kenaikan nilai rata-rata kelas sebesar 16,12 %.

b.Terjadi kenaikan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 40 %.

Dalam bentuk diagram tampak sebagai berikut.



Gambar 1. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa.

Sedangkan hasil observasi keaktifan siswa dapat dilihat peningkatannya dalam tabel berikut.

Tabel 2. Data Peningkatan Keaktifan Siswa.

No

Aspek

Siklus 1

Siklus 2

Peningkatan

1.

Keaktifan Siswa

68 %

85 %

25 %

Berdasarkan data dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa :

a.Terjadi kenaikan prosentase keaktifan siswa dari siklus 1 ke siklus 2.

b.Peningkatan prosentase keaktifan siswa sebesar 25 %.

Untuk memperjelas kenaikan prosentase keaktifan siswa dari siklus 1 ke siklus 2 data disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut.



Gambar 2. Diagram Peningkatan Keaktifan Siswa.

Analisis data hasil tes hasil belajar siswa dan hasil pengamatan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mulai dari kondisi pra siklus, siklus 1 sampai akhir siklus 2 menunjukkan terjadinya kenaikan atau peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model permainan mencari jejak ternyata terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar materi Interkonversi Mol.

V.PENUTUP

5.1. Simpulan

Berdasarkan data-data, analisis, dan pembahasan dalam penelitian ini yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil simpulan berikut :

  1. Penggunaan model permainan mencari jejak untuk mempelajari Interkonversi Mol dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil tes pada siklus 2 mengalami kenaikan sebesar 16,12 % dari kondisi awal di pra siklus dan terjadi peningkatan prosentase ketuntasan klasikal sebesar 40 %.

  2. Penggunaan model permainan mencari jejak dalam mempelajari Interkonversi Mol dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terjadi kenaikan keaktifan siswa sebesar 25 % dari siklus 1 ke siklus 2.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah disimpulkan di atas kami dapat menyarankan hal-hal berikut :

1)Bagi sekolah, hendaknya menyediakan sarana untuk penggunaan permainan sebagai variasi dalam pengajaran.

2)Bagi guru, agar penggunaan model pembelajaran ini dapat didayagunakan secara optimal.

3)Bagi siswa, untuk selalu belajar sungguh-sungguh dan berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar agar diperoleh hasil belajar yang maksimal.

5.3. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini kami dapat merekomendasikan hal-hal berikut :

1)Permainan mencari jejak dapat digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mempelajari Interkonversi mol di kelas X semester 1.

2)Sebagai model inovatif dalam pembelajaran permainan mencari jejak mudah untuk dilaksanakan di manapun.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rohani.2004. Pengelolaan Pengajaran . Bandung : Rineka Cipta.

Arif S. Sadiman, dkk. 2006. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Masnur Muslich. 2009. Melaksanakan PTK itu Mudah. Jakarta : PT.Bumi Aksara.

Masnur Muslich.2008. KTSP;Dasar Pemahaman dan Pengembangan.Jakarta :PT Bumi Aksara.

Nana Syaodih Sukmadainata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ratna Ediati,dkk.2008.Kimia jilid 1: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,Departemen Pendidikan Nasional.

Suhadi Ibnu, dkk.2003.Dasar-dasar Metodologi Penelitian.Malang:UM Press.

Sukardi,Ph.D,Prof.2008.Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta : PT Bumi Aksara.

Sumiati dan Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Tresna Sastrawijaya.1988. Prosedur Belajar Mengajar Kimia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

BIODATA

PESERTA LKI PEMBELAJARAN GURU SMA

NAMA : RITA HARYANINGRUM,S.Pd

NIP : 197012181997022002

TEMPAT/TGL LAHIR : LOMBOK TENGAH, 18 DESEMBER 1970

GOL/PANGKAT : IV/a / PEMBINA

UNIT KERJA : SMAN 1 BOJONG KAB.PEKALONGAN

Share ing jaringan sosial


Similar:

Abstrak : Penerapan Model Pembelajaran Menulis Terbimbing Untuk Meningkatkan...

Abstrak: Penerapan Metode Membaca Terbimbing Untuk Meningkatkan Keterampilan...

Meningkatkan motifasi belajar siswa dalam seni musik di sd n 134/i...

U an sebentar lagi tiba. Segala usaha untuk menyukseskan uan 2009...

Silabus satuan Pendidikan : sman 1 kalaena mata Pelajaran : Bahasa...

Pendidikan karakter dalam pengembangan sumber daya manusia untuk...

Petunjuk penggunaan laporan Hasil Belajar ini dipergunakan selama...

Abstrak: Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X sma islam Hasyim...

Penerapan strategi drta dalam meningkatkan aktivitas belajar dan

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrisikan kearifan lokal...

Sastra


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
s.kabeh-ngerti.com
.. Home